<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Hilangnya Keberkahan Arsip | Kilas Terkini</title>
	<atom:link href="https://kilasterkini.com/tag/hilangnya-keberkahan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://kilasterkini.com/tag/hilangnya-keberkahan/</link>
	<description>Membawa Berita Lebih Dekat</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jun 2026 02:31:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.7</generator>

<image>
	<url>https://kilasterkini.com/wp-content/uploads/2026/05/cropped-Biru-Tua-dan-Emas-Modern-Huruf-H-Logo-scaled-1-32x32.jpg</url>
	<title>Hilangnya Keberkahan Arsip | Kilas Terkini</title>
	<link>https://kilasterkini.com/tag/hilangnya-keberkahan/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan</title>
		<link>https://kilasterkini.com/sebuah-renungan-inflasi-ketamakan-dan-hilangnya-keberkahan/</link>
					<comments>https://kilasterkini.com/sebuah-renungan-inflasi-ketamakan-dan-hilangnya-keberkahan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 02:31:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Hilangnya Keberkahan]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kegelisahan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketakutan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketamakan]]></category>
		<category><![CDATA[KH Ahmad Jamil]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://kilasterkini.com/?p=393</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu) Ada masa ketika harga bukan sekadar angka di pasar, tetapi menjadi bahasa kegelisahan rakyat. Ia terdengar di dapur-dapur keluarga, di meja para buruh, di percakapan ibu-ibu rumah tangga, di warung kecil, di antrean pasar, dan di wajah para ayah yang [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://kilasterkini.com/sebuah-renungan-inflasi-ketamakan-dan-hilangnya-keberkahan/">Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kilasterkini.com">Kilas Terkini</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p class="fw-bold mb-2"><strong>Oleh: KH Ahmad Jamil, M.A, Ph.D</strong><br />
Pengurus KPK MUI/Pimpinan Pondok Pesantren Tahfizh Daarul Quran (DaQu)</p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><br />
Ada masa ketika harga bukan sekadar angka di pasar, tetapi menjadi bahasa kegelisahan rakyat.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ia terdengar di dapur-dapur keluarga, di meja para buruh, di percakapan ibu-ibu rumah tangga, di warung kecil, di antrean pasar, dan di wajah para ayah yang mulai menghitung ulang kebutuhan hidup mereka sebelum akhir bulan tiba.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Inflasi, dalam bahasa ekonomi, adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Tetapi dalam bahasa masyarakat kecil, inflasi sering kali berarti beras yang semakin mahal, lauk yang semakin sederhana, uang belanja yang cepat habis, dan rasa cemas yang semakin panjang.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Bank Dunia dalam pembaruan keamanan pangan global mencatat bahwa inflasi pangan tetap menjadi tekanan serius, terutama di negara-negara berpendapatan rendah.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Antara akhir 2025 dan awal 2026, inflasi pangan secara kuartalan bahkan meningkat di negara-negara berpendapatan rendah, meskipun menurun pada kelompok negara lain. Sementara FAO juga mencatat bahwa indeks harga pangan dunia tahun 2025 rata-rata lebih tinggi 4,3 persen dibandingkan tahun 2024, terutama karena kenaikan harga minyak nabati dan produk susu.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Data itu menunjukkan bahwa krisis harga bukan sekadar isu lokal. Ia adalah bagian dari tekanan global: gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, perubahan iklim, biaya energi, distribusi pangan, psikologi pasar, dan perilaku manusia.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Bahkan FAO pernah mengingatkan bahwa negara-negara berpendapatan rendah paling terpukul oleh inflasi pangan; pada puncak krisis Januari 2023, 65 persen negara berpendapatan rendah dan 61 persen negara berpendapatan menengah-bawah mengalami inflasi pangan di atas 10 persen.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Namun, Islam mengajak kita membaca krisis ini lebih dalam. Sebab harga yang naik tidak selalu hanya soal stok barang. Kadang ia juga soal stok nurani. Tidak selalu hanya soal pasar. Kadang ia juga soal akhlak. Tidak selalu hanya soal inflasi. Kadang ia juga soal ketamakan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Dalam tradisi Islam dikenal sebuah ungkapan:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">الْغَلَاءُ وَالرُّخْصُ جُنْدَانِ مِنْ جُنُودِ اللهِ، اسْمُ أَحَدِهِمَا الرَّغْبَةُ، وَالْآخَرُ الرَّهْبَةُ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Mahal dan murahnya harga adalah dua tentara dari tentara-tentara Allah; nama salah satunya adalah keinginan/ketamakan, dan yang lainnya adalah ketakutan.”</em></span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Secara tahqiq, ungkapan ini memang tidak layak dinisbatkan secara pasti sebagai hadis Nabi SAW, karena dalam sejumlah kitab takhrij ia dinilai lemah, bahkan disebut <em>maudhu‘</em> (palsu) oleh sebagian ulama.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Dalam sumber hadis yang menghimpun riwayat-riwayat bermasalah, redaksi ini disebut dengan penilaian <em>maudhu‘</em>. Jadi, sikap ilmiah yang paling aman adalah menyebutnya sebagai ungkapan hikmah yang masyhur, bukan sebagai hadis sahih.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Akan tetapi, substansi maknanya tetap bisa dibaca sebagai renungan sosial, bahwa harga sering bergerak bukan hanya oleh jumlah barang, tetapi juga oleh dua dorongan besar dalam jiwa manusia “<em>ar-raghbah</em>” (ketamakan) dan “<em>ar-rahbah</em>” (ketakutan). Dalam bahasa ekonomi modern, keduanya tampak dalam <em>market sentiment</em>, <em>consumer panic</em>, spekulasi, penimbunan, dan perilaku pasar yang digerakkan oleh rasa takut atau hasrat meraup keuntungan berlebihan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Di sinilah Islam hadir dengan keseimbangan. Islam mengakui hukum pasar, tetapi tidak membiarkan pasar kehilangan moralitas. Islam mengakui mekanisme harga, tetapi tidak membenarkan manipulasi, penipuan, monopoli, dan penimbunan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ketika harga naik di Madinah, para sahabat pernah meminta Rasulullah SAW menetapkan harga. Nabi SAW menjawab:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">إِنَّ اللهَ هُوَ الْمُسَعِّرُ، الْقَابِضُ، الْبَاسِطُ، الرَّازِقُ، وَإِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَلْقَى اللهَ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يُطَالِبُنِي بِمَظْلَمَةٍ فِي دَمٍ وَلَا مَالٍ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Menentukan harga, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Melapangkan, dan Yang Maha Memberi Rezeki. Aku berharap bertemu Allah, sementara tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku karena kezaliman dalam darah maupun harta.”</em> (HR Abu Dawud)</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Hadis ini tidak boleh dipahami secara fatalistik, seolah negara dan masyarakat tidak boleh melakukan apa-apa saat rakyat tercekik harga. Para ulama menjelaskan, Rasulullah SAW tidak menolak penetapan harga dalam konteks ketika kenaikan itu berjalan secara alami, bukan akibat kezaliman pelaku pasar. Dan bila ada penimbunan, manipulasi, monopoli, atau tindakan yang merugikan masyarakat, maka syariat justru menuntut intervensi keadilan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Karena itu Nabi SAWbersabda:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">مَنْ احْتَكَرَ فَهُوَ خَاطِئٌ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Siapa yang melakukan penimbunan, maka ia berdosa.”</em> (HR Muslim)</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Bahkan dalam kajian fiqih, keharaman menimbun kebutuhan pokok manusia merupakan pendapat yang disepakati oleh mazhab-mazhab besar dalam substansi perlindungan terhadap kebutuhan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak membiarkan pasar menjadi rimba bebas bagi yang kuat untuk menekan yang lemah.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Di titik ini, pemikiran Imam al-Ghazali terasa sangat relevan. Dalam <em>Ihyā’ ‘Ulum ad-Din</em>, beliau memasukkan pembahasan tentang cinta harta, bakhil, cinta kedudukan, dan riya’ ke dalam bagian “<em>rub’u al-muhlikat</em>” (bagian tentang penyakit-penyakit yang membinasakan jiwa). Dalam <em>Kitab Dhamm al-Bukhl wa Dhamm Hubb al-Mal</em>, al-Ghazali secara khusus membahas bahaya cinta harta yang tidak dikendalikan oleh iman.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Al-Ghazali tidak sedang mencela harta sebagai sarana hidup. Harta dalam Islam bisa menjadi jalan ibadah, zakat, wakaf, sedekah, pendidikan, dakwah, dan kemaslahatan. Yang beliau kritik adalah ketika harta berubah menjadi pusat orientasi hidup. Ketika manusia tidak lagi memiliki harta, justru harta yang memiliki manusia. Ketika kekayaan tidak lagi melahirkan syukur, tetapi kesombongan. Dan ketika hal itu tidak melahirkan kepedulian, tetapi eksploitasi.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Dalam pembahasan tentang kedudukan dan popularitas, al-Ghazali menulis bahwa cinta kedudukan termasuk perkara yang membinasakan dan harus diobati dari hati. Bahkan struktur pembahasan <em>Ihya’</em> menunjukkan bahwa cinta kedudukan dapat menjadi lebih berbahaya daripada cinta harta, karena manusia sering rela mengorbankan harta demi citra, kekuasaan, pujian, dan pengaruh sosial.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Di sinilah krisis ekonomi bertemu dengan krisis moral. Saat sebagian masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, sebagian elite mempertontonkan kemewahan tanpa rasa malu, yang terluka bukan hanya ekonomi rakyat, tetapi juga rasa keadilan sosial. Budaya pamer kekayaan di tengah penderitaan publik bukan sekadar persoalan selera hidup. Ia adalah tanda menipisnya empati.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ibn Khaldun membaca persoalan ini dari sisi yang lebih luas, yaitu peradaban. Dalam <em>Al-Muqaddimah</em>, beliau membuat satu pembahasan terkenal:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">فِي أَنَّ الظُّلْمَ مُؤْذِنٌ بِخَرَابِ الْعُمْرَانِ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Tentang bahwa kezaliman merupakan pertanda kehancuran peradaban.”</em></span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Sedangkan ungkapan Ibn Khaldun yang sangat masyhur menyebutkan:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">الظُّلْمُ مُؤْذِنٌ بِخَرَابِ الْعُمْرَانِ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Kezaliman adalah pertanda kehancuran peradaban.”</em></span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Dalam konteksnya, Ibn Khaldun tidak hanya berbicara tentang kezaliman fisik. Ia berbicara tentang kezaliman struktural: perampasan harta rakyat, pajak yang menekan, monopoli, penyalahgunaan kekuasaan, dan kebijakan yang mematikan semangat ekonomi masyarakat.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"> Redaksi penting lain yang dinukil dari <em>Muqaddimah</em> berbunyi:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">إِنَّ الْعُدْوَانَ عَلَى النَّاسِ فِي أَمْوَالِهِمْ ذَاهِبٌ بِآمَالِهِمْ فِي تَحْصِيلِهَا وَاكْتِسَابِهَا</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Sesungguhnya tindakan melampaui batas terhadap harta manusia akan menghilangkan harapan mereka untuk memperoleh dan mengusahakannya.”</em></span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Konteks lanjutannya menjelaskan bahwa ketika masyarakat melihat hasil kerja mereka akhirnya dirampas, mereka akan kehilangan motivasi untuk bekerja; bila tindakan zalim itu meluas ke berbagai sektor penghidupan, maka kelesuan ekonomi pun meluas.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Inilah kecerdasan Ibn Khaldun. Ia memahami bahwa ekonomi bukan hanya soal uang beredar, tetapi juga soal kepercayaan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Bila rakyat kehilangan rasa aman terhadap hak miliknya, bila kerja keras tidak lagi dihargai, bila hukum tajam kepada yang kecil tetapi tumpul kepada yang kuat, maka produktivitas melemah, solidaritas sosial retak, dan negara kehilangan fondasi moralnya.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Menariknya, kegelisahan yang dibaca para ulama klasik itu juga menjadi perhatian serius para ekonom syariah kontemporer. Mereka melihat bahwa krisis ekonomi modern sesungguhnya tidak hanya disebabkan oleh lemahnya produksi atau distribusi, tetapi juga oleh rusaknya orientasi moral manusia dalam memandang kekayaan dan kehidupan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Profesor Umer Chapra, salah satu ekonom Islam paling berpengaruh di dunia modern dan penerima penghargaan “<em>Islamic Development Bank Prize in Islamic Economics</em>”, menjelaskan bahwa problem utama ekonomi global hari ini adalah hilangnya dimensi etika dalam aktivitas ekonomi.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Dalam karya monumentalnya <em>Islam and the Economic Challenge</em>, Chapra menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tanpa fondasi moral pada akhirnya akan melahirkan ketimpangan, kerakusan pasar, eksploitasi, dan krisis sosial yang berkepanjangan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Chapra menulis: <em>“The primary cause of the prevailing economic instability is the misuse of resources and the absence of moral restraints.”</em> Artinya, bahwa penyebab utama instabilitas ekonomi yang terjadi adalah penyalahgunaan sumber daya dan hilangnya pengendalian moral.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Pandangan Chapra sesungguhnya sangat dekat dengan kegelisahan Imam al-Ghazali tentang cinta dunia yang berlebihan. Menurut Chapra, problem terbesar dunia modern bukan sekadar kurangnya kekayaan, tetapi distribusi yang tidak adil, gaya hidup konsumtif yang melampaui batas, dan kerakusan ekonomi yang kehilangan nilai kemanusiaan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Karena itu, ekonomi Islam, menurutnya lebih lanjut, tidak dibangun semata-mata di atas pertumbuhan (<em>growth</em>), tetapi di atas keadilan, keseimbangan, tanggung jawab sosial, dan pengendalian hawa nafsu ekonomi.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Hal yang hampir sama disampaikan oleh Muhammad Nejatullah Siddiqi. Dalam banyak kajiannya tentang ekonomi Islam dan etika pasar, Siddiqi menjelaskan bahwa pasar tidak boleh dibiarkan bergerak tanpa nilai moral. Sebab ketika pasar hanya dikendalikan oleh keuntungan dan ambisi tanpa etika, maka yang kuat akan semakin kuat, sementara kelompok lemah semakin terpinggirkan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Siddiqi menegaskan bahwa Islam tidak menolak keuntungan (<em>profit</em>), tetapi menolak keserakahan (<em>greed</em>). Tujuan ekonomi Islam bukan sekadar akumulasi modal, tetapi terciptanya &#8220;<em>falah&#8221;</em>, yaitu kesejahteraan lahir dan batin yang melahirkan keadilan sosial dan martabat kemanusiaan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Pandangan ini terasa sangat relevan pada hari ini di tengah dunia modern yang sering mengukur keberhasilan hanya dengan angka pertumbuhan, indeks pasar, dan statistik keuntungan, sementara pada saat yang sama ketimpangan sosial, kecemasan hidup, dan krisis moral justru semakin meluas.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ekonom syariah lainnya, Muhammad Akram Khan, bahkan mengkritik budaya konsumsi modern yang terus mendorong manusia untuk membeli, mengejar citra sosial, dan memperturutkan gaya hidup tanpa batas. Menurutnya, sistem ekonomi modern telah menciptakan manusia yang secara materi terlihat semakin makmur, tetapi secara psikologis justru semakin gelisah.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Jika direnungkan lebih dalam, kritik ini sesungguhnya telah lama diisyaratkan Alquran:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Bermegah-megahan telah melalaikan kalian.”</em> (QS. At-Takatsur: 1)</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Tentu ayat ini terasa sangat hidup untuk membaca realitas hari ini. Budaya flexing, pamer kekayaan, perlombaan citra sosial, dan gaya hidup konsumtif di media sosial sering kali tidak melahirkan ketenangan, tetapi justru kecemasan sosial baru. Manusia berlomba terlihat kaya, meski hatinya semakin kosong.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Sementara itu, ekonom Muslim kontemporer Monzer Kahf mengingatkan bahwa keberhasilan ekonomi dalam Islam tidak cukup diukur dari tingginya pendapatan nasional atau besarnya konsumsi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan ekonomi Islam juga harus diukur dari kuatnya solidaritas sosial, rendahnya ketimpangan, stabilitas keluarga, terjaganya moral publik, dan hadirnya rasa aman dalam kehidupan masyarakat.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Karena itu, ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang transaksi halal dan haram. Ia juga berbicara tentang etika kekuasaan, amanah sosial, distribusi kekayaan, perlindungan terhadap kelompok lemah, dan keberpihakan kepada kemaslahatan masyarakat luas.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ekonomi Islam tidak memisahkan pasar dari akhlak. Tidak memisahkan kekayaan dari tanggung jawab sosial. Tidak memisahkan pertumbuhan ekonomi dari keadilan. Dan tidak memisahkan aktivitas dunia dari pertanggungjawaban akhirat.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Maka ketika dunia modern hari ini menghadapi inflasi, ketimpangan, dan krisis kepercayaan sosial, para ulama dan ekonom Islam sesungguhnya telah lama mengingatkan bahwa pasar mungkin saja tumbuh, tetapi ketika moral runtuh, keberkahan perlahan akan ikut hilang.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Karena itu, dalam pandangan Islam, inflasi tidak cukup dibaca hanya dengan grafik. Ia harus pula dibaca dengan akhlak. Kenaikan harga memang bisa terjadi karena faktor global, cuaca, energi, perang, kurs, logistik, atau kebijakan fiskal. Tetapi penderitaan rakyat bisa menjadi jauh lebih parah ketika ditambah dengan ketamakan, penimbunan, korupsi, gaya hidup hedonis pejabat, dan lemahnya empati sosial.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Maka solusi Islam tidak berhenti pada nasihat sabar kepada rakyat kecil. Sabar itu mulia, tetapi tidak boleh dijadikan alat untuk membungkam ketidakadilan. Qana’ah itu agung, tetapi tidak boleh dipakai untuk membenarkan kerakusan. Tawakal itu wajib, tetapi tidak boleh menggantikan ikhtiar memperbaiki tata kelola.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Islam meminta rakyat menjaga iman, tetapi juga meminta pemimpin menjaga amanah. Islam meminta masyarakat tidak panik, tetapi juga meminta pedagang tidak zalim. Islam meminta orang miskin tidak putus asa, tetapi juga meminta orang kaya tidak kehilangan hati.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Alquran menegaskan:</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;"><em>“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi.”</em> (QS. Al-A‘raf: 96)</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ayat ini menarik karena tidak hanya berbicara tentang rezeki, tetapi juga tentang keberkahan. Rezeki adalah apa yang diberikan Allah. Dan keberkahan adalah kebaikan yang Allah tambahkan di dalamnya.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Ada orang yang hartanya banyak tetapi gelisah. Ada yang penghasilannya besar tetapi hidupnya sempit. Ada bangsa yang sumber dayanya melimpah, tetapi rakyatnya tidak sejahtera. Sebab yang hilang bukan hanya pendapatan, tetapi keberkahan.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Keberkahan lahir dari iman, takwa, kejujuran, keadilan, amanah, dan kepedulian. Ketika ekonomi dipisahkan dari akhlak, pasar bisa tumbuh, tetapi manusia hancur. Angka bisa naik, tetapi nurani turun. Gedung bisa tinggi, tetapi keadilan rendah.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Di sini perlu ditekankan, bahwa menghadapi inflasi tidak cukup dengan mengeluh, juga tidak cukup dengan menyerah. Keluarga perlu mengatur prioritas, mengurangi gaya hidup konsumtif, memperkuat solidaritas, menghidupkan sedekah, dan membangun kemandirian ekonomi.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Pedagang perlu menjaga kejujuran, tidak menimbun, tidak mempermainkan harga, dan tidak mengambil keuntungan dengan merusak masyarakat.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Pemimpin perlu hadir dengan kebijakan yang adil, perlindungan terhadap kelompok rentan, pengawasan pasar, pemberantasan korupsi, dan keteladanan hidup sederhana.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Pada hakikatnya, rakyat tidak hanya membutuhkan bantuan, tetapi lebih dari itu, mereka membutuhkan keadilan. Mereka tidak hanya membutuhkan stabilitas harga. Mereka membutuhkan keteladanan moral. Mereka tidak hanya membutuhkan angka pertumbuhan, melainkan juga membutuhkan rasa bahwa negara dan masyarakat masih memiliki hati.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Pada akhirnya, inflasi adalah ujian ekonomi. Ketamakan adalah ujian moral. Dan hilangnya keberkahan adalah peringatan ruhani. Bila harga naik, jangan biarkan nurani ikut turun. Bila hidup terasa berat, jangan biarkan iman menjadi rapuh. Bila dunia semakin keras, jangan biarkan hati kehilangan rahmah.</span></p>
<p style="font-weight: 400;"><span style="color: #000000;">Sebab peradaban tidak runtuh hanya karena mahalnya harga. Ia runtuh ketika manusia kehilangan amanah, ketika kekuasaan kehilangan rasa malu, ketika pasar kehilangan moralitas, dan ketika hati manusia semakin jauh dari Allah.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Artikel <a href="https://kilasterkini.com/sebuah-renungan-inflasi-ketamakan-dan-hilangnya-keberkahan/">Sebuah Renungan: Inflasi, Ketamakan, dan Hilangnya Keberkahan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://kilasterkini.com">Kilas Terkini</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://kilasterkini.com/sebuah-renungan-inflasi-ketamakan-dan-hilangnya-keberkahan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
