Umat Muslim di Jalur Gaza merayakan Iduladha tahun ini dalam suasana penuh duka di tengah perang dan krisis kemanusiaan. Tradisi Iduladha yang biasanya identik dengan kebersamaan keluarga dan penyembelihan hewan kurban, kini berubah menjadi kesedihan akibat konflik berkepanjangan.
Melansir dari Al Jazeera, Kamis, 28 Mei 2026, banyak warga Gaza kehilangan anggota keluarga, rumah, dan mata pencaharian akibat serangan Israel. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat hampir 73 ribu warga Palestina tewas sejak perang berlangsung.
Konflik juga menyebabkan jutaan warga kehilangan tempat tinggal dan hidup di kamp-kamp pengungsian. Banyak warga Gaza kini tinggal di tenda kecil tanpa fasilitas memadai di tengah keterbatasan hidup.
Situasi ekonomi di Gaza juga membuat tradisi kurban hampir tidak dapat dilaksanakan. Yayasan amal Ru’ya menyebut musim kurban tahun ini praktis terhenti akibat penutupan perbatasan dan kelangkaan hewan ternak.
Selain itu, lonjakan harga yang sangat tinggi juga menyebabkan warga Gaza tidak menyembelih kurban pada Iduladha tahun ini. Harga seekor domba di Gaza kini mencapai antara 4.500 hingga 6.000 dolar AS (Rp80,5 hingga Rp107,2 juta)
Harga tersebut jauh meningkat dibandingkan sekitar 350 dolar AS (Rp6,2 juta) sebelum perang. Banyak lembaga amal akhirnya memilih membagikan daging beku sebagai pengganti hewan kurban hidup.
Pasar-pasar di Gaza tampak jauh lebih sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut terjadi karena daya beli masyarakat terus menurun akibat perang dan krisis ekonomi.
Di tengah suara takbir yang masih terdengar dari kamp-kamp pengungsian, banyak warga Gaza menjalani Iduladha tanpa perayaan besar. Mereka masih menghadapi kehilangan, kesedihan, dan ketidakpastian akibat konflik yang belum berakhir.


Tinggalkan Balasan