Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan tetap mempertahankan pendudukan di wilayah Lebanon dan Suriah, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mengumumkan kesepakatan gencatan senjata yang juga berkaitan dengan konflik di kawasan tersebut.
Dalam konferensi pers pada Senin (15/6/2026), dikutip dari Aljazeera, Netanyahu menyatakan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon, tempat Israel saat ini menguasai sekitar 570 kilometer persegi wilayah. Konflik antara Israel dan kelompok bersenjata Hizbullah yang didukung Iran telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
“Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan di Lebanon selama diperlukan,” kata Netanyahu kepada para wartawan.
Menurut rincian yang belum terkonfirmasi secara resmi, Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan yang akan ditandatangani Iran dan Amerika Serikat pada Jumat mendatang.
Pernyataan Netanyahu diperkirakan akan menambah tekanan terhadap perjanjian gencatan senjata yang masih sangat rapuh tersebut.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang mengumumkan kesepakatan itu pada Minggu, mengatakan bahwa nota kesepahaman yang menjadi dasar perjanjian mencakup “penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon.”
Israel terlibat dalam perang melawan Hizbullah sejak Oktober 2023 dan melancarkan serangan lintas perbatasan pada Oktober 2024. Operasi tersebut kemudian berkembang menjadi invasi besar-besaran ke Lebanon.
Saat ini Israel masih menguasai wilayah di luar Sungai Litani yang membentang di Lebanon selatan dan menjadi batas resmi “zona keamanan” yang diklaim Israel.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan terus menargetkan apa yang disebutnya sebagai “cabang-cabang teror Iran” dan menyatakan bahwa negaranya harus tetap siaga menghadapi ancaman dari Teheran.
Pada Ahad lalu, Israel melancarkan serangan ke pinggiran Beirut yang menewaskan tiga orang. Serangan itu dipandang sebagai pelanggaran terhadap salah satu garis merah Iran dalam proses kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Laporan media menyebutkan bahwa serangan tersebut membuat Presiden Amerika Serikat Donald Trump marah karena dikhawatirkan dapat mengganggu kemajuan menuju gencatan senjata.
Namun, meskipun Teheran mengancam akan melakukan pembalasan, nota kesepahaman yang terkait dengan kesepakatan tersebut tetap ditandatangani pada Minggu malam.
Menurut berbagai laporan, Netanyahu juga beberapa kali berselisih dengan Trump dalam pembicaraan tertutup. Di dalam negeri, ia menghadapi kritik dari kalangan oposisi maupun kelompok sayap kanan yang menilai dirinya gagal mencegah lahirnya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kelompok garis keras di Israel khawatir bahwa berakhirnya perang dengan Iran akan memaksa Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Saat ini Israel menguasai sekitar 1.000 kilometer persegi wilayah di Gaza.
Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu mengakui bahwa dirinya tidak selalu sejalan dengan Trump. Namun ia menilai perang melawan Iran secara keseluruhan merupakan kemenangan bagi Israel.
“Sering kali kami memiliki pandangan yang sama, tetapi ada juga saat-saat ketika kami tidak sepenuhnya sependapat. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel dan saya akan terus membelanya,” ujar Netanyahu sebagaimana dikutip The Jerusalem Post.
Dia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
“Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, baik hari ini maupun di masa depan. Kami telah menumbangkan para pemimpin rezim teror dan menghancurkan pabrik-pabrik teror mereka,” katanya.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Senin sebelumnya menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari wilayah yang diduduki sejak 2023.
“Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saya menjalankan kebijakan yang jelas, yakni mempertahankan keberadaan tentara Israel di zona-zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza tanpa batas waktu, demi melindungi perbatasan dan permukiman Israel dari unsur-unsur jihad,” ujar Katz.
“Kami menolak penarikan tentara Israel dari Lebanon, terlepas dari tekanan apa pun, baik saat ini maupun di masa mendatang,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran telah tercapai dan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa pungutan biaya.
Menurut Aljazeera, kesepakatan tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran pada Ahad (14/6/2026), disebut akan segera mengakhiri permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat.
Trump mengatakan perjanjian itu memungkinkan pelayaran bebas biaya melalui Selat Hormuz, yang sebagian besar tertutup sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Desember.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai,” tulis Trump melalui platform Truth Social.
“Selamat kepada semua pihak! Dengan ini saya memberikan otorisasi penuh untuk membuka Selat Hormuz tanpa biaya, dan pada saat yang sama mengizinkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak kembali mengalir!”
Trump kemudian menambahkan bahwa kesepakatan tersebut akan membawa perdamaian dan keamanan bagi seluruh kawasan, serta mengisyaratkan kemungkinan tercapainya perjanjian damai yang lebih komprehensif dengan Iran di masa mendatang.
“Kesepakatan besar ini akan menghadirkan perdamaian dan keamanan bagi seluruh kawasan. Banyak presiden telah mencoba berdamai dengan Iran, namun semuanya gagal sebelum saya. Untuk pertama kalinya, para pemimpin kawasan menemukan seorang presiden yang dapat membantu mereka mewujudkan perdamaian yang nyata. Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz setelah penandatanganan kesepakatan pada Jumat nanti, termasuk untuk kepentingan pembersihan ranjau laut, minyak akan kembali mengalir dari kedua arah, bagi kawasan maupun dunia,” kata Trump.
Peran Pakistan
Pengumuman Trump muncul setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif lebih dulu mengumumkan kesepakatan tersebut melalui platform X.
Ia menyebut perjanjian itu bertujuan mengakhiri pertempuran di seluruh medan konflik, termasuk di Lebanon.
“Setelah serangkaian pembicaraan intensif, kami dengan senang hati mengumumkan bahwa kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah tercapai. Kedua pihak menyatakan penghentian segera dan permanen seluruh operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon,” tulis Sharif.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat dan Iran atas komitmen mereka dalam mencari solusi diplomatik atas konflik tersebut.
“Kami juga menyampaikan penghargaan tulus kepada saudara-saudara kami yang terlibat dalam upaya mediasi ini, khususnya kepemimpinan Negara Qatar, atas dukungan mereka dalam mencapai kesepakatan ini,” lanjutnya.
Sharif turut mengucapkan terima kasih kepada kepemimpinan Arab Saudi dan Turki atas kontribusi besar mereka dalam proses perundingan.
“Dengan tercapainya kesepakatan ini, para mediator akan memfasilitasi serangkaian pertemuan pekan ini. Pembahasan awal sebelum implementasi akan menjadi landasan bagi perundingan teknis serta upacara penandatanganan resmi.”
Qatar, Inggris, dan Prancis Sambut Positif Pengumuman tersebut muncul setelah beberapa hari spekulasi mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Sebelumnya Trump menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata akan diumumkan pada Ahad. Namun serangan udara Israel ke kawasan pinggiran selatan Beirut sempat memunculkan kekhawatiran bahwa proses perdamaian dapat terganggu.
Setelah sejumlah peringatan dari para pemimpin Iran yang menyatakan kesiapan mereka membalas Israel atas pengeboman Beirut—yang dianggap sebagai garis merah bagi Teheran—Perdana Menteri Pakistan akhirnya mengumumkan bahwa sebuah “kesepakatan damai” telah berhasil dicapai.
Qatar menyatakan bahwa kemitraannya dengan Pakistan berperan penting dalam mewujudkan nota kesepahaman tersebut setelah proses mediasi intensif selama beberapa hari terakhir. Kementerian Luar Negeri Qatar melalui X menyatakan:
“Negara Qatar menyambut baik tercapainya nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran mengenai penyelesaian berbagai isu yang masih tertunda, termasuk jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Kami memandangnya sebagai langkah penting dalam memperkuat perdamaian berkelanjutan serta mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat regional dan internasional.”
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan kesiapan negaranya untuk membantu pembicaraan teknis antara Washington dan Teheran, dengan harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat menstabilkan pasar energi dunia.
“Perhatian kini harus difokuskan pada implementasi penuh nota kesepahaman ini guna memastikan Selat Hormuz dibuka kembali dan tetap terbuka secara permanen, serta memastikan rincian perjanjian nuklir dapat diselesaikan,” ujar Starmer.
“Kami menegaskan bahwa kebebasan navigasi tanpa hambatan dan tanpa biaya di Selat Hormuz harus segera dipulihkan,” tambahnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyatakan bahwa Paris siap mendukung pemerintah Lebanon.
“Saya menyambut baik kesepakatan yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran, hasil dari upaya diplomatik yang melibatkan sejumlah mitra internasional. Saya menyerukan agar kesepakatan ini segera dan sepenuhnya dilaksanakan oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik,” tulis Macron.
Ia menambahkan bahwa perjanjian tersebut harus memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz secara segera dan tanpa syarat. “Lalu lintas maritim yang kembali berjalan tanpa pembatasan maupun biaya sangat penting bagi stabilitas kawasan dan perekonomian global,” ujarnya.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menilai kesepakatan gencatan senjata tersebut dapat menandai lahirnya era baru di Timur Tengah dan memuji peran Trump dalam tercapainya perjanjian tersebut.
“Apa yang dilakukan presiden adalah menciptakan ruang nyata untuk mentransformasi kawasan itu. Dan kini, mudah-mudahan, sebuah era baru bersama Iran dapat dimulai,” kata Vance.
“Saya pikir kita dapat mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Ini merupakan hal yang sangat baik bagi rakyat Amerika.”
Vance juga menyatakan harapannya agar harga energi global dapat menurun setelah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Ia mengaku berencana menghadiri upacara penandatanganan resmi perjanjian yang dijadwalkan berlangsung pekan depan di Swiss.



Tinggalkan Balasan