Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta, memaparkan analisis tajam mengenai siklus jatuh bangunnya tatanan dunia dalam sejarah manusia.
Anis mengisyaratkan bahwa bangsa-bangsa Barat yang telah mendominasi dunia selama lima abad terakhir kini mulai kehilangan syarat-syarat untuk mempertahankan kepemimpinannya, membuka jalan bagi bangkitnya Asia untuk memimpin peradaban baru.
Pandangan filosofis dan geopolitik tersebut disampaikan Anis Matta dalam forum internasional peringatan International Day for Dialogue among Civilizations (Hari Dialog Antar Peradaban Internasional) di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
“Kita harus menyediakan ruang di dalam diri kita untuk menyaksikan bahwa bangsa yang pernah dominan selama lima abad terakhir ini mungkin tidak lagi memiliki syarat-syarat untuk mempertahankan kepemimpinannya dalam sejarah peradaban manusia,” ujar Anis Matta di hadapan para diplomat, parlemen, dan tokoh lintas agama.
Anis menambahkan bahwa momentum sejarah kini sedang bergeser ke Timur. “Bangsa-bangsa yang belum mendapatkan giliran untuk memimpin peradaban manusia mungkin juga sudah waktunya memimpin, manakala mereka memiliki syarat-syaratnya. Dan sekarang kita menyaksikan kontribusi dari kawasan Asia kepada peradaban manusia,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Anis menjelaskan bahwa dalam sejarah tidak ada satu pun peradaban yang permanen. Berdasarkan hukum sejarah (sunnatut tadafu), peradaban memiliki waktu untuk bangkit dan ada kalanya untuk runtuh.
Ia mencontohkan bagaimana imperium besar masa lalu seperti Bangsa Mongol, Alexander the Great, hingga Kekhalifahan Ottoman Turki yang pernah menguasai teritori raksasa, pada akhirnya menciut dan mengalami kemunduran.
“Geografi itu adalah sesuatu yang tidak pernah permanen. Pada waktu satu bangsa atau peradaban itu bangkit, pada dasarnya ada sebab-sebabnya. Kita akan menyaksikan orang-orang terbaik, otak-otak terbaik, berkumpul di satu tempat yang sama dan di waktu yang sama. Namun setelah itu, syarat-syarat tersebut hilang,” urai mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut.
Anis menilai, dalam proses naik dan turunnya peradaban ini, konflik besar selalu menyertai sebagai fakta sejarah yang tidak terhindarkan demi menciptakan keseimbangan (ekuilibrium) baru.
Ketika peradaban lama mulai runtuh, sifat pertamanya adalah destruksi, merusak lebih banyak daripada memperbaiki. Dari situlah muncul kekuatan baru untuk mengimbangi kekuatan destruksi tersebut.
Anis menganalisis bahwa kehancuran dominasi Barat hari ini dipicu oleh krisis sistemik pasca-Perang Dunia II yang meliputi krisis ideologi tata kelola dunia, krisis institusi global seperti PBB yang mandul bak “payung bocor” karena gagal menghentikan genosida di Gaza, hingga krisis kepemimpinan global.
Ketidakmampuan Barat mempertahankan kepemimpinannya memicu terjadinya konflik supremasi (conflict of supremacy) berupa perang regional yang berkepanjangan seperti di Ukraina dan Timur Tengah.
Selain itu, Anis juga menyentil ketidakadilan ekonomi global yang selama ini dinikmati Barat atas Asia, khususnya di sektor energi.
“Semua minyak yang ada di Timur Tengah ini dijual pada umumnya ke Asia. Tapi return dari penjualan minyak ini umumnya direinvestasikan kembali ke Eropa dan ke Amerika. Ini satu ketidakadilan ekonomi sebenarnya bagi umat manusia. Ini waktunya untuk mengembalikan hasil penjualan minyak itu juga untuk direinvestasikan ke Asia,” papar Anis.
Anis menegaskan bahwa peradaban adalah capaian akumulatif umat manusia yang saling mewarisi, di mana agama menjadi salah satu sumber paling dominan yang memengaruhi pikiran manusia sepanjang sejarah. Melalui momentum Hari Dialog Peradaban ini, ia mengajak Asia dan dunia internasional untuk merumuskan cetak biru tatanan baru.
“Momentum dialog ini adalah penting untuk mengumpulkan satu proposal peradaban bersama. Proposal peradaban bersama ini adalah menemukan satu model sosial, model ekonomi, dan model politik baru yang bisa menyatukan lima hal, yang pertama adalah agama,” pungkas Anis Matta.
Forum internasional ini digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bekerja sama dengan DPD RI dan DPR RI. Mengangkat tema “Memperkuat Iman dan Membangun Perdamaian: Menyelaraskan Peradaban Global dari Indonesia untuk Dunia”, agenda strategis ini turut mengusung lima misi utama demi meretas jalan perdamaian dunia.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci, antara lain Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid, Cendekiawan Muslim Prof Din Syamsuddin, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, Ketua Kaukus Parlemen untuk Perdamaian Dunia Ahmad Doli Kurniawan, Anggota DPR RI Mardani Ali Sera, serta Duta Besar negara sahabat seperti Dubes Arab Saudi Faisal Abdullah H. Amodi, Dubes Turki Talip Küçükcan, dan Dubes Timor Leste Roberto Sarmento de Oliveira Soares.



Tinggalkan Balasan