Momentum Tahun Baru Hijriah hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai peringatan perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Lebih dari itu, hijrah harus dipahami sebagai perubahan orientasi hidup menuju nilai-nilai keimanan dan kemaslahatan yang lebih besar.
Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis menegaskan bahwa semangat hijrah tetap relevan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi umat di era modern.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dipilih oleh para sahabat sebagai penanda kalender Islam karena mengandung nilai perjuangan dan pengorbanan yang sangat besar demi mempertahankan keimanan.
“Nabi itu hijrah dari Makkah ke Madinah, dan itu menjadi nama tahun. Sebenarnya kan tahun ini sudah ada sejak dunia ini ada, tapi nama Hijriah itu dihitung dari hijrah Nabi,” ujarnya kepada MUI Digital di Kantor MUI Pusat, Jakarta pada Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, pemilihan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan Islam bukan tanpa alasan. Hijrah mencerminkan keteguhan iman dan kesediaan untuk berkorban demi menjalankan perintah Allah SWT.
“Karena hijrah itu menunjukkan tentang keimanannya. Rela meninggalkan keluarga, harta, tempat demi iman kepada Allah dan Rasul-Nya,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa makna hijrah pada masa kini tidak lagi terbatas pada perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain. Hijrah lebih relevan dimaknai sebagai perubahan cara pandang dan orientasi hidup seorang Muslim.
“Sekarang hijrah itu tidak lagi soal tempat, tapi bersoalan orientasi berpikir,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hijrah berarti mengubah pola pikir yang semata-mata berorientasi pada urusan dunia menjadi kehidupan yang dipandu oleh nilai-nilai spiritual dan keimanan.
“Dari berpikir yang mungkin sifat duniawi semata menjadi terinspirasi, terisi dengan spiritual. Yang kedua dari mungkin berpikir hanya kesenangan duniawi semata menjadi berpikir bagaimana diisi dan diperkuat dengan keimanan,” katanya.
Menurutnya, semangat hijrah juga mengajarkan umat Islam untuk meninggalkan berbagai perbuatan yang tidak diridhai Allah SWT dan beralih kepada amal-amal kebaikan yang membawa manfaat bagi sesama.
“Nah hijriah kita meninggalkan dari hal-hal yang negatif, maksiat kepada yang baik, orientasi individu menjadi orientasi untuk kebaikan orang banyak,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa semangat hijrah harus diwujudkan dalam bentuk kepedulian sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Seorang Muslim, kata dia, tidak cukup hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga harus berupaya menghadirkan manfaat bagi orang lain.
“Orientasi kepada kepentingan sendiri menjadi orientasi bagaimana kita menyebarkan kebaikan dan manfaat bagi orang lain. Ini hijrah yang harus menjadi orientasi kita ke depan,” katanya.
Menurutnya, ketika seseorang mulai memikirkan kemaslahatan umat dan kebaikan orang banyak, Allah SWT akan membukakan jalan terbaik bagi kehidupannya.
“Kalau kita sudah bisa berpikir tentang kebaikan orang banyak dan kebaikan umat, maka otomatis diri sendiri oleh Allah sudah diberikan jalannya yang terbaik,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah sebagai momentum untuk memperbarui komitmen dalam beribadah, memperkuat keimanan, dan meningkatkan kontribusi bagi masyarakat.
“Semangat hijrah adalah menjadi semangat kita mengabdikan hidup, mengabdikan waktu untuk hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, berjuang di jalan Allah,” pungkasnya.



Tinggalkan Balasan