Founder SAY Montessori School, Rita Frisillia, resmi menyelesaikan program sertifikasi Indonesia Dyslexia Specialist Teacher, sebuah program yang bertujuan mencetak guru spesialis disleksia di Indonesia. Prosesi pelantikan peserta berlangsung di Bandung beberapa hari lalu.
Rita menjadi salah satu dari 22 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia yang berhasil menyelesaikan program sertifikasi yang digagas oleh Gerakan Bhinneka. Program tersebut dirancang untuk mempersiapkan tenaga profesional yang mampu mengenali, mendampingi, dan memberikan layanan pendidikan bagi anak-anak dengan disleksia.
Ketua Gerakan Bhinneka, Laurentia Mira, S.H., M.Fil., mengatakan program tersebut lahir dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan pemahaman terhadap anak-anak yang mengalami kesulitan belajar.
“Indonesia tidak kekurangan anak-anak berbakat. Yang masih kurang adalah orang dewasa yang mampu membaca tanda-tanda kesulitan belajar secara tepat. Akibatnya, banyak bakat yang tersia-siakan dan terperangkap dalam masalah sosial dan emosional,” ujar Laurentia, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, seorang Dyslexia Specialist Teacher tidak hanya bertugas mengajarkan anak membaca, tetapi juga berperan mengubah cara sekolah, keluarga, dan masyarakat memandang anak-anak yang memiliki cara belajar berbeda.
Ia menegaskan bahwa anak yang dipahami dan mendapat dukungan yang tepat akan memiliki perkembangan sosial dan emosional yang lebih baik sehingga mampu meminimalkan berbagai dampak negatif di masa depan.
Laurentia menjelaskan, sertifikasi tersebut bukan sekadar hasil mengikuti pelatihan atau seminar, melainkan proses pembentukan tenaga profesional yang dipersiapkan menjadi pusat pengetahuan baru di daerah masing-masing, baik bagi sekolah, guru, orang tua, maupun komunitas.
Program ini juga mendapat dukungan dari UN Dyslexia Network yang mengusung pendekatan berbasis kekuatan (strength-based approach), yakni memandang disleksia sebagai perbedaan neurologis yang tidak hanya memiliki tantangan, tetapi juga potensi yang dapat dikembangkan.
Menurut Laurentia, pendekatan tersebut sangat relevan diterapkan di Indonesia mengingat masih banyak anak dengan disleksia yang belum teridentifikasi dan belum memperoleh pendampingan yang sesuai.
“Mereka yang terlambat dikenali sering kehilangan rasa percaya diri dan membawa luka akademik hingga dewasa,” katanya.
Ia menambahkan, hadirnya 22 guru spesialis disleksia pertama di Indonesia menjadi langkah awal terbentuknya jaringan nasional yang diharapkan mampu memperluas layanan pendidikan inklusif di berbagai daerah.
Sementara itu, Rita Frisillia menyatakan akan mengimplementasikan ilmu yang diperolehnya melalui SAY Montessori School dengan memperkuat kompetensi guru dalam mendampingi anak-anak penyandang disleksia.
“Insya Allah, dengan bekal ilmu yang telah saya peroleh, saya akan menjadikan SAY Montessori School sebagai pusat pembelajaran disleksia,” ujarnya.
Praktisi pendidikan Montessori tersebut juga menyampaikan filosofi yang menjadi semangatnya dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan belajar.
“Kamu tidak bodoh, cara belajarmu saja yang berbeda, dan kami akan membantumu,” tutup Rita.








Tinggalkan Balasan