Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang bertujuan memperkuat peran keluarga dalam pendidikan mendapat tanggapan dari masyarakat.

Salah seorang warga Aceh Selatan, Raja Muda, berharap pemerintah juga memperhatikan kondisi psikologis anak-anak yatim maupun mereka yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

Menurut Raja Muda, gerakan tersebut memiliki tujuan yang baik. Namun, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan perasaan anak-anak yang tidak memiliki orang tua sehingga tidak menimbulkan rasa sedih atau minder ketika melihat teman-temannya datang ke sekolah bersama ayah dan ibu.

“Bayangkan bagaimana perasaan seorang anak ketika teman-temannya diantar ayah dan ibunya ke sekolah, sementara dia harus datang sendiri karena sudah tidak memiliki orang tua. Kondisi seperti ini juga perlu menjadi perhatian,” kata Raja Muda, Jumat (10/07/2026).

Ia berharap pemerintah tidak hanya mendorong keterlibatan orang tua, tetapi juga menghadirkan perhatian khusus bagi anak-anak yatim melalui pendampingan dari wali, keluarga, guru, tokoh masyarakat, maupun relawan.

Menurutnya, langkah tersebut dapat membuat anak-anak yang kehilangan figur ayah dan ibu tetap merasakan dukungan serta semangat pada hari pertama masuk sekolah.

“Esensi gerakan ini adalah menghadirkan kasih sayang dan dukungan kepada anak. Karena itu, jangan sampai ada anak yang justru merasa sedih atau terpinggirkan karena kondisi yang tidak bisa mereka pilih,” ujarnya.

Raja Muda menilai pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan kedisiplinan dan tanggung jawab, tetapi juga empati terhadap sesama. Karena itu, setiap program pendidikan diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh anak tanpa membedakan latar belakang keluarganya.

Ia mengusulkan agar pemerintah daerah bersama sekolah menyusun langkah pendampingan bagi anak yatim pada hari pertama sekolah.

Pendampingan tersebut dapat dilakukan oleh guru, wali kelas, keluarga, maupun tokoh masyarakat sehingga mereka tetap merasakan perhatian dan kebersamaan.

“Jangan sampai gerakan yang baik ini tanpa disadari menyisakan kesedihan bagi sebagian anak. Semua anak berhak merasa dihargai, disayangi, dan mendapat semangat yang sama ketika mengawali perjalanan pendidikannya,” tutup Raja Muda.**