Persoalan pemerataan pelayanan kesehatan menjadi salah satu perhatian mahasiswa dalam diskusi santai yang digelar GERMA Aceh Selatan bersama HMPS Poltekkes Kemenkes Aceh Selatan dalam rangka refleksi 21 tahun MoU Helsinki dan 81 tahun Indonesia Merdeka pada Sabtu (15/8/2026).
Dalam diskusi yang mengangkat tema “Perhatian Mahasiswa terhadap Otonomi Khusus (Otsus) Bidang Pendidikan dan Kesehatan di Aceh Selatan”, Wakil Ketua HMPS Poltekkes Kemenkes Aceh Selatan, Atha Maulana, menyampaikan pentingnya peningkatan kualitas dan pemerataan pelayanan kesehatan, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil dan sulit mendapatkan akses layanan kesehatan.
Atha menilai pembangunan sektor kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan maupun pengadaan fasilitas kesehatan. Pemerintah juga perlu memperhatikan ketersediaan tenaga kesehatan, kelengkapan fasilitas, obat-obatan, sistem rujukan, serta akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang cepat dan layak.
“Pemerataan kesehatan bukan hanya tentang adanya fasilitas kesehatan, tetapi bagaimana masyarakat di pelosok bisa mendapatkan pelayanan yang sama, cepat, dan berkualitas seperti masyarakat di wilayah perkotaan,” ujar Atha dalam diskusi.
Menurutnya, keberadaan dana Otonomi Khusus (Otsus) harus mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pelayanan kesehatan di Aceh Selatan. Pengalokasian anggaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi geografis masing-masing wilayah, terutama daerah yang memiliki keterbatasan akses.
Ia juga mendorong keterlibatan mahasiswa dalam mengawal kebijakan kesehatan. Mahasiswa, khususnya yang memiliki latar belakang kesehatan, dapat menjadi bagian dari kontrol sosial dengan menyampaikan kondisi dan kebutuhan masyarakat berdasarkan temuan di lapangan.
Diskusi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan berbagai pandangan mengenai masa depan pembangunan Aceh Selatan. Atha berharap momentum 21 tahun MoU Helsinki dan 81 tahun Indonesia Merdeka tidak hanya menjadi peringatan sejarah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap pelayanan kesehatan yang merata dan berkeadilan.
“Harapannya, pembangunan kesehatan ke depan benar-benar menyentuh masyarakat sampai ke pelosok Aceh Selatan. Karena kesehatan merupakan hak seluruh masyarakat dan tidak boleh dibatasi oleh jarak maupun kondisi wilayah,” tutupnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh perwakilan DEMA STAI Aceh Selatan dan mahasiswa Politeknik Aceh Selatan. Diskusi berlangsung dalam suasana santai dan terbuka, sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan bagi mahasiswa dalam melihat persoalan pendidikan dan kesehatan di Aceh Selatan.


Tinggalkan Balasan